Mencegah dan Mengantisipasi Flu Burung

    Pada awalnya flu burung atau avian influenza merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus yang menyerang unggas, seperti ayam, itik, bebek, kalkun, merpati, unggas air, burung-burung peliharaan, maupun burung liar. Namun pada perkembangannya, virus flu burung mengalami mutasi, sehingga virus tersebut dapat tersebar dan menular pada hewan lain seperti babi, kuda bahkan manusia.

    Penyakit flu burung ini pertama kali diidentifikasi lebih dari 100 tahun yang lalu di Italia, namun sampai saat ini tidak ada catatan bagaimana awal mula flu burung itu ditemukan. Sejak tahun 1968, sudah dilaporkan bahwa penularan virus unggas ke manusia, belakangan ini diketahui yang menyebabkan tingkat kematian tinggi adalah akibat terinfeksi flu burung. Menurut hasil penelitian WHO, virus flu burung telah termutasi dari daya mematikan (patogenisitas) yang rendah menjadi virus yang patogenisitasnya tinggi.

    Seperti halnya virus influenza, virus flu burung (avian influenza) mempunyai kemampuan melakukan perubahan genetik atau mutasi sehingga berkembang menjadi beberapa varian, antara lain:

    • Tipe A. Menyerang bangsa unggas dan beberapa jenis binatang lain seperti burung, ayam, itik, kalkun, kuda, atau babi
    • Tipe B. Virus ini hanya dapat menginveksi manusia pada musim dingin, hal tersebut dapat diatasi dengan suntikan anti influenza (tingkat virus ini ringan/ tidak ganas).
    • Tipe C. Merupakan tipe campuran, yaitu menyerang hewan dan manusia. Tingkat virus ini paling ganas/mematikan, terutama menyerang pada saluran pernafasan, termasuk subtipe H5N1

    Virus flu burung yang dapat menginfeksi manusia adalah galur/subtipe H5N1 dan H9N2. Virus tersebut cenderung lebih menyerang anak-anak. Tanda-tanda manusia terserang flu burung hampir sama seperti flu biasa namun tingkat kematiannya tinggi.

    Tanda atau gejala manusia terinfeksi virus flu burung antara lain:

    • penderita mengalami demam tinggi lebih kurang 40 derajad Celcius
    • Sakit kepala, pusing
    • hidung beringus
    • batuk-batuk, sesak napas
    • sakit tenggorokan dan gatal
    • mata memerah karena peradangan (konjungtivitas)
    • pegal linu, badan lemas
    • pada anak kecil sering disertai mencret dan muntah.

    Penularan virus flu burung

    Pada manusia terjadi melalui kontak langsung dengan unggas yang terkena penyakit atau kontak langsung lewat udara yang tercemar virus sehingga melalui pernapasan, virus dapat terhirup memasuki saluran napas manusia. Apabila manusia dan unggas yang terinfeksi virus flu burung berjauhan dan tidak bersinggungan, kecil kemungkinan tertular penyakit itu.

    Menurut Dr Tjandrayoga, walaupun virus flu burung (H5N1) mampu dengan mudah melakukan mutasi di dalam tubuh manusia namun tidak mudah menular. Tetapi virus tersebut bisa menular dari manusia yang sudah terinfeksi kepada manusia lain yang sedang menderita flu. Yang sangat dicemaskan apabila virus flu burung tersebut mengalami mutasi dan mendompleng pada virus flu manusia sehingga berubah sifatnya menyerupai flu biasa. Dengan demikian yang pada awalnya hanya menular lewat unggas yang terinfeksi, virus flu burung tersebut bisa juga menular antar manusia seperti halnya penularan virus flu biasa.

    Berikut ini beberapa resep untuk pencegahan dan antisipasi Flu Burung:

    • Jus lobak, jus jahe, siram ke ayam. Masak daging ayam dengan api pada suhu 100 derajat Celcius hingga matang, lalu masak lagi selama setengah jam. Masukkan bahan makanan dan bumbunya seperi cuka beras putih, lobak, jamur kuping, bawang putih, dan lada. Masak sematang-matangnya.
    • 15 gram sambiloto + 14 siung bawang putih 15 gram jahe + 25 gram kencur, direbus dengan 400 cc air hingga tersisa 200 cc, disaring, airnya diminum dengan menambahkan 1 sendok makan madu
    • 60 gram krokot hijau segar + 30 gram pegagan segar, direbus dengan 600 cc air hingga tersisa 300 cc, disaring, airnya diminum
    • 5 butir kiamboi/sunboi diblender dengan 200 cc air kelapa hijau, tambahkan madu, lalu diminum
    • 30 gram jali (direndam dulu) + 30 gram kacang hijau + jahe + gula merah secukupnya, direbus dengan air secukupnya hingga menjadi bubur lalu dimakan.

    Oleh : Prof HM Hembing Wijayakusuma


    © 2020 Mjokertocyber Media. All Rights Reserved.